Review Animal Gods – Lulusan Kickstarter yang Wanprestasi serta Bikin Frustrasi

Animal Gods merupakan game petualangan dua dimensi yang mengedepankan grafis dan musik indah, sedikit elemen puzzle, serta petualangan nonlinear penuh makna yang terinspirasi oleh The Legend of Zelda: A Link to The Past. Setidaknya seperti itu pendapat Still Games selaku tim developer dari Animal Gods.

Sayangnya, sampai saya menyelesaikan game ini, saya tidak mendapati sedikitpun ciri yang disebutkan oleh Still Games di atas. Semakin jauh saya mendalami game ini, semakin penuh kepala saya oleh pertanyaan mengapa Still Games sukses mengumpulkan dana sebesar $26 ribu (sekitar Rp360 juta) dari proyek Kickstarter hanya untuk menghasilkan game yang gagal eksekusi seperti ini.

Cerita Epik namun Sulit Dimengerti

Animal Gods | Screenshot 5

Animal Gods bercerita tentang seorang petualang bernama Thistle yang melakukan perjalanan berbahaya untuk membebaskan tiga makhluk raksasa dari jerat kutukan. Premis yang cukup keren ini disampaikan sedikit oleh Still Games pada awal permainan. Tapi setelah itu, bersiaplah kebingungan mencari inti cerita dari Animal Gods.

Di saat game pada umumnya menggunakan sarana catatan tersembunyi sebagai pelengkap dari cerita utama, Animal Gods malah menggunakan buku harian tersembunyi untuk menyampaikan cerita utama. Ya, kisah utama  Animal Gods dapat terungkap melalui serangkaian buku harian dan catatan yang bisa ditemukan sepanjang permainan.

Saya menemukan catatan secara acak akibat sifat nonlinear game yang membebaskan gamer untuk menjelajah dungeon mana saja. Parahnya lagi, saya menemukan akhir buku harian di tengah permainan karena salah mengambil jalan. Kejadian ini membuat tidak ada insentif lagi bagi saya untuk mencari buku harian dan memahami cerita dari Animal Gods.

Gameplay Sumber Frustrasi

Animal Gods | Screenshot 3

Seperti yang sudah saya sebutkan, Animal Gods mengusung permainan nonlinear yang membebaskan kamu mengakses tiga dungeon berbeda dengan entitas suci masing-masing. Apabila kamu telah menyelesaikan ketiga dungeon tersebut, maka akan terbuka satu dungeon terakhir.

Tiap dungeon memiliki jenis gameplay yang berbeda berkat jenis senjata yang kamu dapatkan. Di dalam dungeon Snake God, kamu akan menemukan senjata berupa pedang. Dungeon Lion God akan memberikan kamu semacam jubah ajaib untuk melompat. Dungeon Spider God akan memberikanmu sebuah panah untuk menembak jarak jauh.

Animal Gods | Screenshot 6

Animal Gods memiliki gameplay yang sangat membosankan dan membuat frustrasi. Di dalam dungeon Spider God dan Snake God misalnya, kamu akan menemukan musuh berupa boks statis atau yang memiliki pergerakan berpola. Coba bayangkan saja, apa menariknya dari memukuli atau menembaki boks-boks tersebut sampai mati?

Pada dungeon Lion God, alih-alih menemukan musuh berupa boks, kamu akan menemui sungai beracun berwarna ungu yang kamu harus lompati menggunakan alat berupa jubah ajaib. Sayangnya, variasi yang ditawarkan tidak menghilangkan fakta bahwa level ini juga tidak kalah membosankan..

Animal Gods | Screenshot 4

Animal Gods tidak berhenti membuat frustrasi sampai di situ. Game ini menerapkan suatu sistem berupa checkpoint untuk menyimpan progres permainan. Bukan berarti checkpoint adalah suatu yang buruk, tetapi kamu akan sering kali mengalami kematian konyol seperti jatuh ke jurang atau tersentuh oleh boks karena terlalu dekat saat mencoba memukulnya.

Kematian konyol yang berulang terus-menerus serta jarak checkpoint yang cukup jauh membuat saya tidak merekomendasikan game ini untuk gamer yang mudah emosi. Sebagai gambaran, Animal Gods sukses membuat saya membanting controller setelah memaksa saya mengulang satu rintangan hingga puluhan kali.

Hal Menyebalkan Lainnya

Animal Gods | Screenshot 2

Saya belum menyentuh pernyataan Still Games tentang Animal Gods yang “mengedepankan grafis dan musik yang indah”. Saya akui mungkin ini adalah bagian dari game yang tidak terlalu buruk. Grafis yang ada di dalamnya memang indah, tapi tidak cukup indah untuk menutupi beberapa aset yang digambar asal dan terkesan dikerjakan terburu-buru. Saya tidak bisa membedakan apakah Animal Gods memang mengusung grafis yang unik dan tidak ada duanya, atau memang mempekerjakan desainer yang kurang kompeten.

Soal musik, walaupun memang indah dan menenangkan, fakta ini dengan cepat sirna karena kamu akan menyadari repetisi yang menjengkelkan setelah lama bermain . Terlebih bila kamu sedang penuh emosi saat mencoba melewati suatu rintangan yang sangat susah. Musik repetitif ini bisa sangat mengganggu.

Kesimpulan

Animal Gods | Screenshot 7

Animal Gods | Screenshot 1

Sebenarnya saya melakukan sedikit penelitian dengan berkunjung ke laman Kickstarter Animal Gods untuk mencari tahu mengapa game ini bisa mengumpulkan dana sesuai target. Ternyata saya menemui trailer preview dari Animal Gods yang sungguh berbeda dari apa yang saya mainkan. Saya melihat musuh yang tidak kotak dan bisa bergerak bebas, grafis yang lebih keren, serta macam-macam hal lain yang tidak saya temui di unit review, yang merupakan versi penuh di Steam.

Animal Gods bisa jadi adalah salah satu manifestasi ketakutan terbesar dari setiap backer Kickstarter: produk yang terlalu banyak mengumbar janji namun gagal ditepati. Dalam kondisi dan harga yang dipasang sekarang ini, saya tidak bisa merekomendasikan Animal Gods bahkan saat mendapatkan diskon yang cukup besar. Tapi jika tim Still Games suatu saat bisa memperbaiki kualitas Animal Gods seperti yang ada pada gameplay trailer di bawah ini, saya berjanji akan mengulas ulang game yang sebenarnya penuh potensi ini.

This entry passed through the Full-Text RSS service – if this is your content and you’re reading it on someone else’s site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

advertisement
Review Animal Gods – Lulusan Kickstarter yang Wanprestasi serta Bikin Frustrasi | helmirfansyah | 4.5